"Good Morning All!" sapaku kepada teman-teman di kelas. Perkenalkan, namaku Jessica, panggil saja aku Sica, atau Jessi. Tapi aku lebih suka dipanggil Sica, hehe..
" Good morning too Sica. Kamu kayaknya lagi seneng nih, ada apa sih? Cerita cerita dong!" kata sahabatku Hermy. Namanya Hermione, tapi aku lebih suka menyebutnya dengan Hermy.
"Hahaha kamu ini apa sih. Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin berbagi keceriaan aja. Cuma itu, gak ada yang lain." jawabku.
"Yasudah kalo begitu. Ke kantin yuk. Laper nih.." kata sahabatku si Fanny. Namanya Tiffany, cuma aku memanggilnya Fanny.
"Mau makan apa ya?"
"Hmm.. Aku mau milkshake ah!" seru Fanny.
"Aduh Fanny, ini masih pagi. Hey, kamu masih tertidur? Kalau kamu makan es pagi-pagi bisa sakit!" kata Hermy. Akupun diam saja melihat tingkah kedua sahabatku itu. Dia berdua memang suka seperti itu. Kadang aku tertawa karena tingkah mereka.
BRAAKK.. sesuatu menabrakku. Aku terjatuh, huuh rasanya sakit, karena aku tertabrak dengan keras. Siapa sih nih, jalan gak bener banget! Sakit tau! gerutuku dalam hati. Akupun bangun dan rasanya ingin memarahi yang menabrakku.
"Ehh maaf maaf ya, gak sengaja nabrak!"
"Ih, apaan sih kamu seenaknya minta maaf, sakit tau!"
"I..iya maafin makanya aku gak sengaja!"
"I.." sebelum aku melanjutkan kata-kataku, aku melihat sosok yang menabrakku. Seorang cowok, tinggi, dan tidak asing lagi bagiku. Ya, dia adalah cowok yang tersombong menurutku di sekolah ini. Dia merasa terlalu ganteng, memang sih dia banyak yang suka. Dan makanya itu dia jadi sombong, Aku pun langsung pergi begitu saja, aku tidak mau melihat wajahnya yang super menyebalkan itu. Biarkanlah dia berbicara apa tentangku, yang penting aku gak ngeliat dia lagi!
"Eh, kamu tadi nabrak dia ya? Berani banget sih!" kata Suzy. Ya dia penggemar beratnya si Evan. Cowok yang super menyebalkan itu.
"Hah nabrak dia? Dia yang nabrak aku! Untuk apa aku menabrak dia? Gak ada untungnya!" Jawabku. Akupun langsung meninggalkan Suzy.
"Heran aku sama orang-orang yang suka sama dia. Apa kerennya sih dia?" tanyaku kepada dua sahabatku itu. "Yaampun, kamu lihat dong, dia jago main basket, futsal, bola, ahh dia perfect banget!!" Jawab Fanny.
"Haha, kemarin kamu bilang Tama ganteng, sekarang Evan. Gimana sih kamu Fan!" celetuk Hermy. "Heyyyyy kamu apa sih! Daripada kamu sama Ron terus, gak bosen?"
"Jangan bawa-bawa Ron dong! Dia gak salah apa-apa!" kata Hermy kesal.
"Sudah-sudah! Kenapa kalian ribut gini sih? Udah ah, aku mau keluar. Capek aku dengar kalian berdebat terus!" kataku.
"Eh aku juga capek ya sama kamu, gak bisa bedain cowok yang keren sama enggak, cowok yang baik apa enggak! Evan tuh gak sombong! Kamu aja yang gak tau! Kamu juga Her, suka-suka aku lah mau suka sama siapa, emang kamu siapa ngelarang-larang aku hah? Capek aku temenan sama kalian berdua!" ketus Fanny.
"STOP STOP STOP! Jangan main salah-salahan dong! Masa cuma gara-gara Evan kita jadi seperti ini sih?! Ayo kita berdamai!" lerai Hermy. Ya, dia memang yang paling bijak diantara kita bertiga.
"Damai? Kamu bilang damai? Aku salah apa memang? Aku gak salah apa-apa! Tuh si Sica aja begitu!"
"Kok kamu jadi nyalahin aku sih?"
"Ya memang kamu yang mulai bikin aku emosi!"
"Yaudah yaudah sekarang terserah kamu aja. Aku minta maaf sama kamu Tiffany. Terserah kamu mau bilang aku apa, aku gak mau cuma gara-gara ini persahabatan kita hancur!" kataku sambil menahan air mata.
"Apa kamu bilang? Minta maaf? Telat!" jawab Tiffany.
"Fanny, kamu apa-apaan sih! Tidak ada kata telat di kamus kita!" kata Hermy lagi
"Kamus kita? KITA?! Kamu aja sama Sica! Capek aku! Udah, aku mau pulang. Malas berdebat sama kalian!"
Mungkin ini menjadi hari yang terburuk untukku. Ditabrak sama Evan, lalu Fanny dan Hermy marah padaku. Ya aku tahu, persahabatan tak selalu indah. Aku harus sabar. Nanti pasti aku, Hermione, dan Tiffany akan bersama-sama lagi. Akan menjadi HeFanSic lagi.
Aku ingin menenangkan diri. Merasakan hawa di sore hari ini. Duduk di kursi taman. Sambil menunggu matahari terbenam. Ya, disini banyak orang-orang, yang sedang bercanda-canda, bertawa ria, mungkin hanya aku yang sedang bersedih hati. Huh.. bad day. Tiba-tiba, ada yang menepuk pundakku. Dan menawarkan sapu tangan untukku.
"Ini, usap air matamu. Aku tidak ingin kau membuang-buang air matamu untuk hal yang tidak penting seperti itu." katanya.
Suaranya.. ya, itu suara Evan. Tunggu, untuk apa dia.. ah sudahlah, aku tidak mau memikirkan itu.
"Ini ambil, aku tau kamu membutuhkannya, Sica."
"Terima kasih van." kataku singkat.
"Ada masalah? Kau bisa cerita denganku. Mungkin aku bisa membantumu."
"Haruskah aku menceritakan ini kepadamu? Aku kan, tidak dekat sama kamu. Nanti kamu nyebar lagi. Aku gak mau."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan pergi. Aku tidak mau mengganggumu. Aku tidak mau membuatmu tambah kesal." katanya lagi sambil berlalu.
"Tunggu. Jangan tinggalin aku sendiri disini. Aku takut. Langit sudah gelap." kataku sambil terisak.
"Ya sebaiknya kamu pulang."
"Kamu membiarkan seorang perempuan di malam seperti ini pulang sendiri? Waw."
"Aku pikir kamu tidak mau aku antar pulang. Baiklah, jangan banyak bicara. Aku akan antarkan pulang."
Akhirnya akupun sampai di rumah. Aku pikir, Evan itu orangnya sombong, tapi, ternyata tidak. Mungkin aku terlalu negative thinking sama dia. Tak lupa sebelum masuk rumah aku mengucapkan terima kasih padanya.
"Makasih ya sekali lagi, Van. Maaf merepotkanmu." kataku.
"Haha, iya tidak apa-apa." jawabnya. Akupun masuk ke rumah, ke kamarku. Tempat yang paling nyaman untukku.
Ternyata.. dia tak seburuk yang kukira. Maafkan aku Evan, aku memang bodoh, aku kan tidak terlalu mengenal dia. Aku tidak boleh seperti itu. Lain kali, aku akan berhati-hati dalam menilai orang. Aku masih teringat dengan Hermy dan Fanny. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Aku sudah capek. Besok rasanya berat sekali bertemu dengan mereka. Aku tidak tahu harus apalagi. Huh.. sekarang aku mau tidur saja. Aku tidak mau besok terlambat.
Annyeonghaseyo! Pagi semuaa.. Hari ini aku bersemangat untuk bersekolah. Yah setidaknya hari ini minimal aku harus berdamai dengan dua sahabatku. Sica harus bisa membuat HeFanSic balik lagi. Ya, harus bisa. Aku tidak mau menambah dosa jika harus bertengar terus dengan mereka. Semoga berhasil.
Kulihat di kelas ada Tiffany seorang diri. Duduk di pojokan kelas. Mungkin dia pindah tempat duduk. Akupun menyapanya. Kulihat sepertinya ia sedang sedih. Aku ingin meredakan kesedihannya. Ya..
"Hai Fanny.." sapaku
"Ngapain kamu disini? Pergi! Aku gak mau ketemu kamu!" katanya sambil terisak.
"Aku cuma ingin membantumu. Apa itu tidak boleh?"
"Bantu? Bantu apa? Bantu aku tambah marah?! Oh boleh boleh banget!" balasnya ketus.
"Lebih baik aku pergi daripada lihat kamu marah-marah terus. Um.. aku minta maaf soal kemarin, aku tau aku salah, tak seharusnya aku seperti itu. Aku minta maaf. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu. Kamu harus percaya padaku." Aku memulai minta maaf padanya. Aku harap dia bisa mengerti.
"Maaf? Maaf katamu? Memang kamu salah apa?! Sudah mendingan kamu PERGI! PERGI DARI SINI!"
"Baiklah aku akan pergi.. Maafkan aku.."
Akupun meninggalkannya sendiri. Aku tidak mau membuatnya sedih.
"Hai Sica! Sini deh!"
"Aku Her?"
"Memang siapa lagi?"
Sepertinya dia tidak marah padaku. Aku senang sekali, tapi aku harus tetap minta maaf.
"Tolongin ya, ini bawa ke ruang guru. Aku ada urusan sebentar. Boleh kan? Boleh kan ya? Katanya bestfriend. Kamu harus mau dong. Mau ya? Udah nih nih" Hermy menyodorkan beberapa buku besar kepadaku. Padahal aku sedang membawa kotak makan, aku ingin makan di taman. Tapi ia malah seperti ini..
"Aduh maaf Her, gak bisa, kamu gak liat aku bawa ini, aku mau makan dulu." aku menolaknya.
"Aduh Sica aku tuh repot banget! Bawain doang kok gak mau! Teman apaan kamu?!"
"Kok kamu jadi gini? Apa maksud kamu? Ini ambil kembali buku-bukunya!"
"Sorry sorry aku udah ditunggu tuh. Bye!" kata Hermy sambil berlalu tanpa memperdulikan aku mengangkat buku seberat 100 kg rasanya. Ugh..
"Hey Sica, kamu ngapain bawa banyak buku gitu? Sini aku bantuin!" suara Evan dari belakangku. Ia langsung membawa semua buku-bukuku. Aku beruntung sekali mempunyai teman seperti dia. Disaat-saat seperti ini.
"Duh makasih banget ya. Kamu udah nolong aku. Berat banget itu buku!" kataku
"Hahaha gak usah pake banget. Aku kan kuat gak kayak kamu, buktinya aku bisa mengangkat buku-buku ini. Ayo kita bawa buku ini, mau kemana?"
"Ke..ke ruang guru."
"Ok, Let's go!"
Akhirnya sampai juga di ruang guru. Aku masih memikirkan Evan, dia selalu ada disaat-saat seperti ini. Aku salut padanya. Andai saja aku mempunyai saudara seperti dia, sudah senang kali ya aku hehe.
"Kok kamu yang bawa?" tanya salah satu guru.
"Eh itu..iya Bu, saya hanya ingin membantu saja." jawabku. Aku tidak mau bilang apa yang sebenarnya dilakukan Hermy padaku. Mungkin dia hanya ingin minta tolong, tidak lebih.
"Oh begitu. Yasudah, Terima kasih Jessica, dan Evan"
"Sama-sama Bu."
Hari ini mungkin hari yang indah. Ya walaupun Hermy dan Fanny seperti itu padaku, tapi Evan baik padaku. Tak terasa aku meneteskan air mata. Andai aja HeFanSic bisa bersama, dan bertambah satu teman lagi yaitu Evan. -to be continued-
Annyeonghaseyo! Pagi semuaa.. Hari ini aku bersemangat untuk bersekolah. Yah setidaknya hari ini minimal aku harus berdamai dengan dua sahabatku. Sica harus bisa membuat HeFanSic balik lagi. Ya, harus bisa. Aku tidak mau menambah dosa jika harus bertengar terus dengan mereka. Semoga berhasil.
Kulihat di kelas ada Tiffany seorang diri. Duduk di pojokan kelas. Mungkin dia pindah tempat duduk. Akupun menyapanya. Kulihat sepertinya ia sedang sedih. Aku ingin meredakan kesedihannya. Ya..
"Hai Fanny.." sapaku
"Ngapain kamu disini? Pergi! Aku gak mau ketemu kamu!" katanya sambil terisak.
"Aku cuma ingin membantumu. Apa itu tidak boleh?"
"Bantu? Bantu apa? Bantu aku tambah marah?! Oh boleh boleh banget!" balasnya ketus.
"Lebih baik aku pergi daripada lihat kamu marah-marah terus. Um.. aku minta maaf soal kemarin, aku tau aku salah, tak seharusnya aku seperti itu. Aku minta maaf. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu. Kamu harus percaya padaku." Aku memulai minta maaf padanya. Aku harap dia bisa mengerti.
"Maaf? Maaf katamu? Memang kamu salah apa?! Sudah mendingan kamu PERGI! PERGI DARI SINI!"
"Baiklah aku akan pergi.. Maafkan aku.."
Akupun meninggalkannya sendiri. Aku tidak mau membuatnya sedih.
"Hai Sica! Sini deh!"
"Aku Her?"
"Memang siapa lagi?"
Sepertinya dia tidak marah padaku. Aku senang sekali, tapi aku harus tetap minta maaf.
"Tolongin ya, ini bawa ke ruang guru. Aku ada urusan sebentar. Boleh kan? Boleh kan ya? Katanya bestfriend. Kamu harus mau dong. Mau ya? Udah nih nih" Hermy menyodorkan beberapa buku besar kepadaku. Padahal aku sedang membawa kotak makan, aku ingin makan di taman. Tapi ia malah seperti ini..
"Aduh maaf Her, gak bisa, kamu gak liat aku bawa ini, aku mau makan dulu." aku menolaknya.
"Aduh Sica aku tuh repot banget! Bawain doang kok gak mau! Teman apaan kamu?!"
"Kok kamu jadi gini? Apa maksud kamu? Ini ambil kembali buku-bukunya!"
"Sorry sorry aku udah ditunggu tuh. Bye!" kata Hermy sambil berlalu tanpa memperdulikan aku mengangkat buku seberat 100 kg rasanya. Ugh..
"Hey Sica, kamu ngapain bawa banyak buku gitu? Sini aku bantuin!" suara Evan dari belakangku. Ia langsung membawa semua buku-bukuku. Aku beruntung sekali mempunyai teman seperti dia. Disaat-saat seperti ini.
"Duh makasih banget ya. Kamu udah nolong aku. Berat banget itu buku!" kataku
"Hahaha gak usah pake banget. Aku kan kuat gak kayak kamu, buktinya aku bisa mengangkat buku-buku ini. Ayo kita bawa buku ini, mau kemana?"
"Ke..ke ruang guru."
"Ok, Let's go!"
Akhirnya sampai juga di ruang guru. Aku masih memikirkan Evan, dia selalu ada disaat-saat seperti ini. Aku salut padanya. Andai saja aku mempunyai saudara seperti dia, sudah senang kali ya aku hehe.
"Kok kamu yang bawa?" tanya salah satu guru.
"Eh itu..iya Bu, saya hanya ingin membantu saja." jawabku. Aku tidak mau bilang apa yang sebenarnya dilakukan Hermy padaku. Mungkin dia hanya ingin minta tolong, tidak lebih.
"Oh begitu. Yasudah, Terima kasih Jessica, dan Evan"
"Sama-sama Bu."
Hari ini mungkin hari yang indah. Ya walaupun Hermy dan Fanny seperti itu padaku, tapi Evan baik padaku. Tak terasa aku meneteskan air mata. Andai aja HeFanSic bisa bersama, dan bertambah satu teman lagi yaitu Evan. -to be continued-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar