Sepertinya aku tidak semangat lagi melakukan apa-apa tanpa Hermione dan Tiffany. Aku merasa kosong. Walaupun ada Evan yang selalu ada disaat aku membutuhkan seorang teman. Aku tidak mau terus sendiri seperti ini. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh kalian.
"Aku akan membantumu mengembalikan kedua sahabatmu, aku berjanji, kalau aku tidak bisa menepati diriku, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi. Setuju?" Suara Evan mengagetkanku.
Apa? Dia mau membantuku? Kurasa tidak mungkin!
"Kamu yakin bisa berhasil?" tanyaku.
"Apa sih yang tidak bisa kulakukan untukmu?" jawabnya.
Untukku? Apa? Dia melakukannya untukku? "Eits, jangan geer dulu kau.."
"ih? Siapa yang geer? Gak tuh!"
"Haha bener nih? Yaudah ayuk ke kelas."
"Males ah, duluan aja gih.."
Hm.. kalau benar Evan bisa, aku akan senang sekali. Tak tahu mengapa aku jadi bersemangat. Ya, semoga saja si Tifanny tidak membocorkan rahasiaku. Ya, dia memang orangnya sedikit 'bocor' tapi kan, dia sudah janji padaku kalau dia tidak mau memberitahukan siapa siapa.. Tenang sajalah Sica. Tapi gak enak ah sama Evan, masa dia sendiri sih yang berjuang. Aku kok enggak, hm.. sebaiknya aku ajak makan saja nanti malam, membicarakan itu, di cafe dekat taman.
"Hallo, Saya Sica, bisa berbicara dengan Hermione?" aku menelepon Hermione
"Ya saya sendiri. Ada apa Sica?" jawabnya.
"Um.. hm.. ini, kamu nanti ada acara gak? Ya kalau ada gakpapa, tapi kalau gak ada aku mau ngajakin kamu makan, mau gak? Di cafe biasa deket taman jam 5 sore" tanpa basa-basi aku langsung memberitahu maksudku.
"Gak ada sih, boleh deh.. Yaudah"
"Ok kalau gitu makasih, sampai bertemu. Bye" aku menutup telepon. Rasanya senang sekali, dia mau aku ajak makan. Tiba saatnya menelepon Tiffany, tapi aku tahu pasti dia tidak akan mau jika aku yang ajak, maka sebelum aku menelepon Hermione aku menyuruh Evan untuk menelepon Tiffany, agar dia mau. Dan tentu saja itu berhasil. Aku senang sekali. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih ke Evan. Dia memang baik!
Ternyata, di taman Tiffany dan Hermione sudah datang. Aku telat ya? Padahal aku sendiri yang mengajak mereka, kenapa jadi aku yang telat begini? Ah sudahlah, yang penting bertemu dengan mereka.
"Hai Hermy, Fanny!" sapaku.
"Sudahlah, cepat kamu mau ngomong apa sih?" kata Tiffany sinis.
"Hush, kamu apa sih, biarkan Jessica ngomong!" kata Hermione.
"Ok, baik, maaf kalau aku mengajak kalian tanpa memberitahu kalau aku mau membicarakan ini. Maaf banget. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku tidak mau kalian menolak ajakanku. Jadi gini, aku mau kita kembali lagi seperti dulu, seperti HeFanSic yang dulu ceria, selalu bersama, tidak pernah bertengkar, apalagi seperti ini. Aku rasa, ada sebagian yang hilang di hidupku. Yaitu kalian, aku gak mau kehilangan kalian, sudah cukup aku seperti ini. Aku tidak mau kehilangan dua sahabatku yang cantik ini, yang baik, yang pintar, yang setia. Aku tidak bohong. Akan lebih mudah menemukan 100 musuh daripada 1 sahabat. Aku mohon, kembali lagi lah seperti dulu. Masa cuma gara-gara hal sepele kita sampai seperti ini?"
"Sica, sebenarnya aku yang salah, gara-gara aku kalian seperti ini, maafkan aku. Aku yang seharusnya membuat kalian bersatu kembali. Kamu gak boleh begini. Maafkan aku Hermione, Tiffany, dan terutama kau Jessica, maafkan aku."
"Kamu gak salah kok justru aku yang salah, aku yang mulai duluan, aku yang ngatain Hermy kalo Ron jelek, maaf kalau kamu tersinggung Her, dan Sica, aku tahu selera orang berbeda-beda, wajar saja kalau kamu bilang Evan gak keren, tapi hargai pendapatku dong, kamu harus ngerti aku! Jangan egois!" kata Tiffany.
"Cukup, kita semua yang salah. Adil kan?! Pasti kamu bertanya-tanya apa salah kamu. Tapi coba dipikirkan lagi deh. Dan, agar masalah ini tidak bertambah panjang, kita baikan. Gimana? Setuju? HeFanSic?!" ya itulah Hermione, tak ingin membuat masalah bertambah besar. Mungkin dia memang tidak suka bertengkar, dia tidak masuk terlibat dalam suatu masalah yang sangat besar.
"Ok, aku setuju apa kata Hermy." kataku
"Aku juga." sahut Evan.
"So, Fanny, kamu gak mau?" tanya Hermy.
"Oke, aku mau kok, mau banget. Aku sadar kalau aku salah, tidak sebaiknya aku kayak gini. Maafkan aku semuanya." Jawab Tiffany.
"Aku maafkan Sobat!" sahutku dan Hermy berbarengan.
"So? HeFanSic?" "HeFanSic!" "HEFANSIC!"
"Tunggu, bagaimana denganku?" kata Evan.
"Kau mau ikut dengan kita-kita?" tanya Fanny.
"Nae. Tapi sama teman-temanku juga, boleh?" jawabnya.
"Biarku tebak, Alva? Kevin? Oh tidak. Maaf, bukannya aku menolak. Tapi janjimu cuma membuat aku kembali lagi dengan sahabatku. Aku tahu kamu teman yang baik, tapi kamu mengerti kan?" kataku.
"Yea, kamu benar. Lagian aku cuma bercanda kok, maaf haha mana mungkin aku sama cewek-cewek. Udah ah, banyak cewek yang nunggu tuh, Bye." katanya sambil berlalu.
"Tuh kan sombongnya mulai deh!"
"Sica, dia gak sombong!"
"Ssshh jangan mulai lagii!"
"Haha, Just Kidding. Ya gak Sica?"
"hah? Oh hehe iya.. Please don't leave me alone"
"Tak akan kubiarkan"
Akhirnya aku, Hermy, dan Tiffany kembali seperti dulu. Ini berkat bantuan Evan. Thanks a lot Van. Aku harap persahabatan ini tidak pernah putus lagi. Semoga persahabatan ini akan terus berlanjut, sampai nanti, sampai waktu memisahkan kami. Don't leave me alone, my bestfriends...
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar